NURSING CARE

ALL ASKEP (6) ASKEP ANAK (6) ASKEP BAYI (8) Diagnosa (6) JOURNAL (28) new entry jar (33)
Tampilkan postingan dengan label ALL ASKEP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALL ASKEP. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2012

HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN TERHADAP PELAYAN KESEHATAN DENGAN KESETIAAN PASIEN RAWAT INAP DI RUANG PAVILIUN RSUD KOTABARU



ABSTRAK
HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN TERHADAP PELAYAN KESEHATAN DENGAN KESETIAAN PASIEN RAWAT INAP DI RUANG PAVILIUN RSUD KOTABARU PERIODE DESEMBER 2009 – JANUARI 2010

Bambang Wajedi

            Pasien yang merasa puas dengan jasa yang diterimanya akan memperlihatkan kecenderungan yang besar untuk menggunakan kembali jasa yang ditawarkan oleh pembeli jasa pelayanan tersebut di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kepuasan terhadap pelayanan kesehatan dengan kesetiaan pasien rawat inap di ruang Paviliun RSUD Kotabaru. Penelitian ini termasuk penelitian analitik , populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat inap di ruang Paviliun RSUD Kotabaru pada periode Desember 2009 – Januari 2010. Sampel penelitian berjumlah 53 responden dari seluruh populasi dengan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86,8 % responden menyatakan puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan di ruang Paviliun RSUD Kotabaru, dan 13, 2 % responden masih merasakan tidak puas. Untuk melihat hubungan antara variabel menggunakan uji statistik Fisher’s Exact Test. Hasil uji statistik menyatakan ada hubungan yang bermakna antara tingkat kepuasan terhadap pelayanan kesehatan dengan kesetiaan pasien rawat inap di ruang Paviliun RSUD Kotabaru (p = 0,004 < a = 0,05). Petugas kesehatan hendaknya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah dengan cara meningkatkan kinerja pelayanan rawat inap yang belum memuaskan bagi pasien dengan perbaikan manajemen yang didukung oleh sumber daya manusia profesional sehingga dapat meningkatkan citra rumah sakit yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kesehatan.


Kata kata kunci : tingkat kepuasan, kesetiaan pasien, pelayanan kesehatan

PENGARUH RADIASI SINAR ULTRAVIOLET TERHADAP KADAR GLUKOSA DALAM CAIRAN INFUS DEXTROSE 5%



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Cairan infus dextrose 5% merupakan cairan nutrisi parenteral yang paling sering digunakan di klinik/ruang perawatan. Penggunaan cairan infus ini sebagai pilihan untuk nutrisi parenteral karena ada beberapa alasan. Alasan tersebut diantaranya, glukosa yang terkandung didalam cairan infus ini fisiologis bagi tubuh karena memang biasa terdapat dalam darah, mudah didapat, murah, mudah pemberiannya  untuk  berbagai  konsentrasi  (5-40%),  dan  mudah  dipantau (1). Di ruang perawatan rumah sakit, cairan infus dextrose 5 % sering digunakan pada pasien yang menderita penyakit jantung, lever, ginjal, malaria dan bahkan pada diabetes mellitus dengan hipoglikemi (2).
Dalam cairan infus dextrose 5% terdiri atas glukosa yang dilarutkan dalam pelarut air. Larutan ini mempunyai osmolalitas serum sebesar 252 mOsm/L, memberikan kurang dari 200 kkal dan merupakan sumber kecil kalori untuk kebutuhan sehari-hari (3). Sebagian besar glukosa memiliki bentuk siklik hemiasetal yang terbentuk lewat penggabungan rantai aldehid yang terbuka dengan gugus hidroksil (alkohol). Rantai aldehid yang terbuka dan struktur siklik hemiasetal berada dalam keadaan yang seimbang (4) . Rantai terbuka merupakan bentuk reaktif glukosa dan sangat mudah ter oksidasi, sehingga terbentuk senyawa α,β-dikarbonil (4). Oksidasi glukosa tersebut dapat dipercepat dengan adanya foto oksidasi yang bersumber dari lampu neon atau sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet (UV) (5).
Ultra violet termasuk gelombang radiasi elektromagnetik yang mempunyai panjang gelombang 100-400 nm (6). Sinar ultra violet yang dihasilkan dari lampu neon mampu diserap oleh molekul oksigen, akibatnya terbentuk molekul oksigen yang baru, yang memiliki struktur elektronik yang berbeda dari molekul sebelumnya. Molekul oksigen tersebut dinamakan molekul oksigen singlet (¹O2). Molekul oksigen tersebut merupakan turunan oksigen yang bersifat reaktif (7). Kereaktifan molekul oksigen singlet ini dapat memodifikasi struktur molekul glukosa  seperti yang terdapat di dalam cairan infus.
Penelitian sebelumnya telah disebutkan bahwa glukosa dapat mengalami oksidasi akibat adanya sinar lampu neon. Hal ini menyebabkan glukosa yang berstruktur rantai lurus banyak mengalami oksidasi membentuk senyawa dikarbonil. Laju pembentukan senyawa dikarbonil ini juga dipengaruhi oleh pembentukan molekul oksigen yang reaktif. Adanya molekul-molekul oksigen reaktif yang diperantarai oleh sinar UV yang dihasilkan oleh lampu fluoresen, diduga juga berperan di dalam laju oksidasi glukosa (8). Meski demikian pada penelitian tersebut belum mengukur pengaruh pajanan lampu neon terhadap kadar glukosa. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan diteliti pengaruh radiasi sinar ultraviolet (UV) terhadap kadar glukosa yang terdapat di dalam cairan infuse dextrose 5 %.

B.     Rumusan Masalah
Cairan infus dextrose 5 % merupakan cairan infuse yang sering digunakan di ruang perawatan. Dalam penggunaannya cairan infus dextrose 5 % sering terpajan oleh adanya sinar matahari dan lampu neon yang mengandung sinar ultraviolet. Berdasarkan penelitian sebelumnya, radiasi UV dapat menyebabkan kerusakan glukosa yang ditandai oleh pembentukan senyawa dikarbonil. Apabila terjadi kerusakan glukosa maka kualitas cairan tersebut akan berubah dan potensinya berkurang yang menyebabkan tujuan dari terapi tidak terpenuhi sehingga mengakibatkan waktu yang lama dalam proses penyembuhan dan perawatan. Dengan demikian, rumusan masalah penelitian ini adalah “ bagaimana pengaruh radiasi sinar ultraviolet terhadap kadar glukosa dalam cairan infus dextrose 5 % ? “

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui pengaruh radiasi sinar ultraviolet terhadap kadar glukosa dalam cairan infus dextrose 5 %.
Tujuan khusus penelitian ini mengukur kadar glukosa pada cairan infus dextrose 5 % pada 0 jam, 30 menit, 60 menit, 90 menit, 120 menit, 150 menit,  dan 180 menit  setelah dipajan sinar ultraviolet.

D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya bahwa cairan infus dextrose 5 % yang digunakan selama ini beresiko mengalami fotooksidasi dari sinar ultraviolet.



BAB VI
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa kadar glukosa dalam cairan infus dextros 5% mengalami penurunan akibat pengaruh radiasi sinar ultraviolet (UV) yang berasal dari lampu UV λ = 200 nm. Penurunan kadar glukosa tersebut mengikuti persamaan Y = -0,164x + 48,49 dengan koefisien korelasi R² = 0,979 ( x = Lama pajanan UV, y = Kadar glukosa ).

B.    Saran
Hasil penelitian ini telah menggambarkan pengaruh radiasi sinar ultraviolet yang dihasilkan lampu UV λ = 200 nm terhadap penurunan kadar glukosa cairan infus dextrose 5%. Akan tetapi, hasil penelitian ini hanya menggambarkan dari desain model ruang perawatan yang telah disetting di laboratorium kimia Fakultas Kedokteran Unlam Banjarbaru saja. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan di ruang perawatan rumah sakit atau puskesmas perawatan untuk mengetahui gambaran sebenarnya dari pengaruh radiasi sinar UV yang dihasilkan lampu neon atau sinar matahari.

HUBUNGAN ASUPAN MAKANAN, TINGKAT PENDAPATAN DAN JUMLAH ANGGOTA KELUARGA



ABSTRAK


HUBUNGAN  ASUPAN MAKANAN, TINGKAT PENDAPATAN DAN
 JUMLAH ANGGOTA KELUARGA DENGAN STATUS GIZI
SISWA-SISWI SMP NEGERI  3 LABUAN AMAS UTARA
KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
TAHUN 2009

Antung Nursidah


Masalah gizi remaja perlu mendapat perhatian khusus karena pengaruhnya yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta dampaknya pada masalah gizi saat dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan makanan, tingkat pendapatan dan jumlah anggota keluarga dengan status gizi. Penelitian in bersifat observasional analitik dengan rancangan Cross Sectional. Sampel adalah seluruh siswa-siswi SMP Negeri 3 Labuan Amas Utara (LAU) dengan jumlah 91 orang. Pengumpulan data tentang asupan energi dan protein dengan wawancara menggunakan formulir recall 24 jam selama dua hari tidak berturut-turut, tingkat pendapatan dan jumlah anggota keluarga dengan wawancara menggunakan kuesioner dan status gizi dengan cara antropometri berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,5% siswa-siswi SMP Negeri 3 LAU memiliki status gizi baik, 47,3% memiliki asupan energi sedang dan 68,1% dengan asupan protein baik. Tingkat pendapatan keluarga 49,4% tergolong lebih dan 57,1% dari keluarga besar dimana jumlah anggota keluarga > 4 orang. Dari hasil uji statistik “Korelasi Spearman” dengan α = 0,05 disimpulkan ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi siswa-siswi SMP Negeri 3 LAU (p= 0,00), ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi siswa-siswi SMP Negeri 3 LAU (p = 0,00), tidak ada hubungan antara tingkat pendapatan dengan status gizi siswa-siswi SMP Negeri 3 LAU (p = 0,372), ada hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan status gizi (p = 0,021).


Kata-kata kunci : status gizi, asupan energi, asupan protein, tingkat pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga









Jumat, 14 September 2012

Cara baru bagi perempuan untuk melindungi diri terhadap HIV.

Ketika kontrasepsi wanita ditemukan memiliki banyak pilihan. Ada pil, patch, diafragma dan bahkan sebuah cincin vagina yang perlahan-lahan melepaskan hormon pengontrol kelahiran.tetapi Untuk mencegah HIV pilihan terbatas. Wanita bisa memakai kondom wanita, atau untuk perlindungan parsial, mereka dapat mengambil pil setiap hari yang hanya disetujui oleh FDA.Sekarang sebuah studi diterbitkan di Science Translational Medicine menunjukkan bahwa cincin vagina memungkinkan sebagai cara baru bagi perempuan untuk melindungi diri terhadap HIV.Tim ahli kimia telah mengembangkan sebuah cincin plastik kecil yang secara signifikan mengurangi risiko infeksi ketika monyet terkena SHIV, versi simian immunodeficiency virus yang juga membawa gen HIV. Meskipun penelitian kecil-dan tidak diketahui bagaimana temuan akan menerjemahkan ke manusia - hasil meningkatkan harapan bahwa uji klinis yang sedang berlangsung dengan sebuah cincin yang sama akan berhasil pada orang, juga.
Untuk membuat perangkat untuk menghentikan infeksi HIV, Thomas Zydowsky dan rekan-rekannya di Dewan Populasi nirlaba menggantikan hormon di atas ring dengan obat antiretroviral. 

Mereka harus men-tweak komposisi cincin sehingga bekerja dengan obat, tetapi mereka akhirnya menemukan desain yang mengurangi tingkat penularan SHIV pada monyet kera dari sekitar 80 persen menjadi 12 persen. 
Para peneliti mengakui mereka tidak tahu persis bagaimana pada monyet dihubungan dengan manusia. "Tidak ada studi mengaitkan perlindungan dalam kera dengan yang ada pada manusia," kata Zydowsky Shots. "Keberhasilan studi hewan hanya memberi kita perasaan yang lebih baik, bahwa cincin akan bekerja pada manusia."Ilmuwan lain tampak yakin tentang potensi metode ini. National Institutes of Health meluncurkan uji klinis Juli lalu dengan cincin lain yang juga melepaskan obat antiretroviral. Penelitian ini menguji perangkat pada hampir 3.500 wanita di seluruh Afrika, dan mereka berharap untuk memiliki hasil pada tahun 2015 awal.Percobaan lain yang berfokus hanya pada gel memiliki hasil yang beragam. Zydowsky mengatakan ini mungkin karena gel yang sulit untuk digunakan. Mereka harus diterapkan baik sebelum dan setelah berhubungan seks. 
Saat ini wanita membuat lebih dari separuh Odha di dunia, dan mereka dua kali lebih mungkin untuk tertular HIV melalui seks daripada pria. Jadi, jika cincin vagina dapat dibuktikan aman dan efektif, mereka bisa menjadi pilihan populer untuk suatu hari nanti perlindungan HIV.