NURSING CARE

ALL ASKEP (6) ASKEP ANAK (6) ASKEP BAYI (8) Diagnosa (6) JOURNAL (28) new entry jar (33)
Tampilkan postingan dengan label ASKEP ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP ANAK. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Maret 2011

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN BRONKHOPNEMONIA



 STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN BRONKHOPNEMONIA
   
PENGERTIAN

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Atau pneumonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada perenchim paru yang terjadi pada anak.

Bronkhopneumonia adalah pneumonia yang terjadi pada lobulus paru yang disebut juga Pneumonia Lobularis.

TANDA DAN GEJALA

Serangan akut dan membahayakan, Demam tinggi (Pneumonia virus bagian bawah), Batuk, Rules (Ronchi), Wheezing, Sakit kepala, malaise, myalgia (pada anak), Nyeri abdomen

Suhu tubuh dapat naik mendadak sampai 39-400 c, dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, tetapi setelah beberapa hari mula-mula kering kemudian menjadi produktif.

PENATALAKSANAAN


1.                    Umur 3 bulan-5 tahun, bila toksis mungkin disebabkan oleh Streptokokus pneumonia, Hemofilus influenza atau Stafilokokus. Pada umumnya tidak dapat diketahui kuman penyebabnya, maka secara praktis dipakai :
Kombinasi :
Ampisilin 50-100 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Kloksasilin 50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari.
Atau kombinasi :
Eritromisin 50 mg/kg/24 jam, oral, 4 kali sehari dan Kloramfenikol (dosis sda).
2.                   Umur < 3 bulan, biasanya disebabkan oleh : Streptokokus pneumonia, Stafilokokus atau Entero bacteriaceae.
Kombinasi :  
Kloksasilin 50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Gentamisin 5-7 mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.
Kombinasi ini juga diberikan pada anak-anak lebih 3 bulan dengan malnutrisi berat atau penderita immunocompromized.
3.                  Anak-anak > 5 tahun, yang non toksis, biasanya disebabkan oleh :
Streptokokus pneumonia :
-        Eritromisin (dosis sda) atau
-        Kotrimoksazol 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali sehari.
Mikoplasma pneumonia : Eritromisin (dosis sda).
4.                  Bila kuman penyebab dapat diisolasi atau terjadi efek samping obat (misalnya alergi) atau hasil pengobatan tidak memuaskan, perlu dilakukan reevaluasi apakah perlu dipilih antibiotic lain.
5.                  Lamanya pemberian antibiotic bergantung pada :
-        kemajuan klinis penderita
-        jenis kuman penyebab



Indikasi rawat inap :
-              Ada kesukaran  napas, toksis.
-              Sianosis
-              Umur kurang dari 6 bulan
-              Adanya penyulit seperti empiema
-              Diduga infeksi Stafilokokus
-              Perawatan di rumah kurang baik.

Pengobatan simptomatis :
-              Zat asam dan uap.
-              Ekspetoran bila perlu

Fisioterapi :
-              Postural drainase.
-              Fisioterapi dengan menepuk-nepuk.

 


PEMERIKSAAN PENUNJANG

Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m3 dengan pergeseran ke kiri. LED meninggi.
Foto roentgen (chest x ray) dilakukan untuk melihat :
·         Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
·         Luas daerah paru yang terkena.
·         Evaluasi pengobatan
Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau beberapa lobur.

 

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
Identitas.
Umumnya anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak dapat mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Selain itu daya tahan tubuh yang menurun akibat KEP, penyakit menahun, trauma pada paru, anesthesia, aspirasi dan pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.

Riwayat Keperawatan.
-          Keluhan utama.
Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal, diserai pernapasan cuping hidupng, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai muntah dan diare.atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.
-          Riwayat penyakit sekarang.
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39-40oC dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.
-          Riwayat penyakit dahulu.
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.
-          Riwayat kesehatan keluarga.
Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menularkan kepada anggota keluarga yang lainnya.
-          Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut Wilson dan Thompson, 1990 pneumonia sering terjadi pada musim hujan dan awal musim semi. Selain itu pemeliharaan ksehatan dan kebersihan lingkungan yang kurang juga bisa menyebabkan anak menderita sakit. Lingkungan pabrik atau banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota keluarga perokok.



-          Imunisasi.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena system pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder.
-          Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
-          Nutrisi.
Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein = MEP).

Pemeriksaan persistem.
-       Sistem kardiovaskuler.
Takikardi, iritability.
-       Sistem pernapasan.
Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas, pernapasan cuping hdidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif atau non produktif, pergerakan dada asimetris, pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan friction rub, perkusi redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret. Orang tua cemas dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan pilek.
-       Sistem pencernaan.
Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan menurun, lemah. Pada orang tua yang dengan tipe keluarga anak pertama, mungkin belum memahami tentang tujuan dan cara pemberian makanan/cairan personde.
-       Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin belum memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi (ringan sampai berat).
-       Sistem saraf.
Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus pada anak-anak atau malas minum, ubun-ubun cekung.
-       Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum,
-       Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan.
-       Sistem integumen.
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat, akral hangat, kulit kering, .
-       Sistem penginderaan.
Tidak ada kelainan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG SERING TERJADI

1.                Ketidakefektifan  bersihan jalan napas  b.d. produk mukus berlebihan dan kental,  batuk tidak efektif.
2.               Gangguan pertukaran gas b. d. meningkatnya sekresi dan akumulasi exudates serta
perubahan membrane alveolar.
3.              Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake inadekuat.
4.              Ketidakefektifan pola nafas b.d obstruksi  bronchial.
5.              Hipertermi b.d proses inflamasi paru.
6.              Kurangnya volume cairan b.d demam, menurunnya intake, dan tachypneu.
7.              Kecemasan b.d dyspneu dan hospitalisasi









PERENCANAAN

 

-       Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekret.

-       Ketidakefektifan pola nafas b.d obstruksi  bronchial.

-       Gangguan pertukaran gas b.d meningkatnya sekresi dan akumulasi exudates.

Intervensi:

-            Kaji status pernafasan setiap 2 jam, suara nafas, rhytim, penggunaan otot-otot accessory, warna kulit, tanda-tanda vital dan tingkat kegelisahan.

-            Tinggikan posisi kepala diatas tempat tidur (hindari penggunaan posisi duduk pada bayi karena dapat meningkatkan tekanan diafragma)

-            Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi

-            Bila anak toleran, berikan kebebasan untuk memilih posisi yang nyaman .

-            Kaji batuk dan kedalaman pernafasan.

-            Berikan oksigen sesuai program therapi.

-            Rencanakan dan buat jadwal secara periodik untuk istirahat.

-            Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi (buku-buku, puzzles, video games, dan lain-lain)

 

-       Kurangnya volume cairan b.d demam, menurunnya intake, dan tachypneu.

Intervensi:

-            Kaji turgor kulit dan membran mukosa

-            Berikan cairan peroral atau inravena terapi

-            Monitor intake dan output

-            Kaji tanda-tanda dehidrasi (oliguria, ubun-ubun cekung, BB menurun)

-            Timbang berat badan

-            Kaji demam setiap 4 jam dan berikan antipiretik, analgetik dan antibiotik sesuai program

 

-       Kecemasan b.d dyspneu dan hospitalisasi

Intervensi:

-            Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti

-            Anjurkan orang tua untuk menemani anak

-            Anjurkan orang tua dan anak mengekspresikan perasaan secara verbal dan perhatian serta respon yang empati

 

-       Hipertermi b.d proses inflamasi paru.

Intervensi:

-            Jelaskan tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatannya

-            Instruksikan untuk memberikan cairan yang adekuat dan istirahat

-            Instruksikan orang tua untuk memberikan obat antipiretik bila demam dan suhu diatas 38,40c sesuai program

-            Hindari merokok dekat anak yang sakit

-            Instruksikan orang tua untuk melakukan follow up bagi anaknya sesuai program yang dijadwalkan

 

Pelaksanaan

Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien dan memprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi.

Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir proses keperawatan, melalui evaluasi memungkinkan perawatan untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa perencanaan dan pelaksanaan tindakan.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GASTROENTERITIS / DIARE


STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN GASTROENTERITIS / DIARE

Pengertian
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan, lebih banyak dari keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah, lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak

Penyebab

·           Faktor infeksi
a.                   Infeksi enteral
b.                   Infeksi parenteral
·           Faktor Malabsorbsi
·           Faktor Makanan
·           Faktor Psikologis

Prinsip Penatalaksanaan


Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.
·           Jenis cairan yang hendak digunakan.
Bila Ringer Laktat dan Kaen 3B tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
·           Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan.
Jumlah kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan cara/rumus :

Metode Pierce
Berdasarkan keadaan klinis, yakni: 
* diare ringan, kebutuhan cairan       =  5% x kg BB.
* diare sedang, kebutuhan cairan       =  8% x kg BB.
* diare ringan, kebutuhan cairan       = 10% x kg BB.


1
Skor  Maurice King

Bagian Tubuh
N I L A I
Yang Diperiksa
0
1
2
Keadaan Umum
Turgor
Mata
UUB
Mulut
Denyut Nadi
Sehat
Normal
Normal
Normal
Normal
Kuat
< 120
Gelisah,cengeng, apatis, ngantuk
Sedikit, kurang
Sedikit cekung
Sedikit cekung
Kering
Sedang
(120-140)
Mengigau, Koma/syok
Sangat kurang
Sangat cekung
Sangat cekung
Kering, sianosis
Lemah
> 140
Ø  KETERANGAN :                                                            Pada anak-anak Ubun Ubun Besar sudah menutup
               Skor :    0-2 dehidrasi ringan                                                          Untuk kekenyalan kulit :
                                       3-6 dehidrasi sedang                                                    -   1 detik                    : dehidrasi ringan                   
                                       7-12 Dehidrasi berat                                                   -   1-2 detik                : dehidrasi sedang
                                                                                                                                     -   > 2 detik                 : dehidrasi berat

Jadwal / kecepatan cairan
·      Terapi standar pada anak dengan diare                      :  BB (kg) x 10 - 30 cc setiap diare /oral.
·      Terapi standar pada anak dengan diare sedang  :  50 cc/kg/3 jam  atau 5 tetes/kg/mnt.
·      Terapi standar pada anak dengan diare Berat     :  70 cc/kg/3 jam  atau 7 tetes/kg/mnt.

Dietetik
Untuk mencegah kekurangan nutrisi, diet pada anak diare harus tetap dipertahankan yang meliputi:
Susu (ASI atau PASI rendah laktosa)
Makanan setengah padat atau makanan padat (nasi tim)

Obat-obatan
Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
Obat anti Kembung.
Obat spasmolitik / anti muntah
Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)


KONSEP KEPERAWATAN

Pengkajian

Riwayat Keperawatan

·           Riwayat Keperawatan Sekarang

Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan buang air cair berkali-kali baik desertai atau tanpa dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan atau darah. Keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran.                             

2

·           Riwayat Keperawatan Sebelumnya

Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain.


·           Riwayat Kesehatan Keluarga

Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.


Pengkajian Fisik :

 

Fokus pengkajian pada anak dengan diare adalah penemuan tanda-tanda yang mungkin didapatkan yang meliputi: penurunan BB, denyut nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, mata cekung, mukosa bibir dan mulut kering, kulit kering dengan turgor berkurang. Dapat ditemukan peningkatan frekuensi pernapasan, peningkatan peristaltik usus dan adanya luka lecet sekitar anus.



Diagnosa Keperawatan

1.               Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
2.              Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
3.             Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
4.             Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya
5.             Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.


Rencana Keperawatan

Dx.1      Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)
Intervensi :
·                Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi
·                Pantau intake dan output.
·                Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
·                Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif.

3
Dx.2      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
              Intervensi :
·                Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
·                Pertahankan status NPO (puasa) selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan
·                Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
·                Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi.

Dx.3      Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
                                    Intervensi :
·                Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
·                Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen
·                Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit
·                Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
·                Kaji keluhan nyeri, perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal

Dx.4      Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.
Intervensi :
·                Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik tentang mekanisme koping yang tepat.
·                Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua klien yang anaknya mengalami masalah yang sama.
·                Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam membantu klien.

Dx.5      Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan kognitif.
    Intervensi :
·                Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan tentang penyakit dan perawatan anaknya.
·                Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
·                Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta efek samping yang mungkin timbul.
·                Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi.





4
Pelaksanaan

Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien dan memprioritaskannya. Semua tindakan keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi.


Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir proses keperawatan, melalui evaluasi memungkinkan perawatan untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa perencanaan dan pelaksanaan tindakan.



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Jual,”Nursing Diagnisis Aplication To Clinical Praktek”. 7 Edition

Doengos, M.E,dkk.1999,”Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokomentasian Perawatan Pasien”  Edisis III. Jakarata : EGC

Mansjoer, Arif, dkk, 1993, “Kapita Selekta Kedokteran”, Edisi III,Jilid I,
Jakarata : media Aesculapius





















5

THALASEMIA


THALASEMIA


I.     KONSEP DASAR PENYAKIT.
a)            Pengertian.
Thalasemia merupakan suatu penyakit anemia hemolitik, di mana terjadi kerusakan sel darah merah di dalam pembuluh darah, sehingga umur dari eritrosit menjadi pendek ( kurang dari
Thalasemia merupakan penyakit herediter kongenital, ini dikarenakan pada kelainan pembentukan hemoglobin akibat tidak ada atau berkurangnya dari satu atau lebih rantai poli peptida globin.
Jenis Thalasemia :
1)              Thalasemia Mayor ( Thalasemia Alfa ).
Memberikan gejala klinik yang jelas.
2)             Thalasemia Minor (Thalasemia Beta ).
Biasanya tidak memberikan gejala klinik.

b)            Etiologi.
Belum diketahui secara pasti, tapi secara umum dikarenakan gangguan pada gen pembentukan rantai globin akibatnya rantai Hb tidak kuat atau rapuh yang menyebabkan sel darah merah cepat rusak.

c)             Patofisiologi.
      Thalasemia Alfa.
Pada keadaan normal Hb terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai beta,  pada thalasemia satu atau lebih dari satu rantai globin kurang diproduksi sehingga terdapat kelebihan rantai globin karena tidak ada pasangan dalam proses pembentukan hemoglobin normal.
Kelebihan rantai globin yang tidak terpakai akan mengendap pada dinding eritrosit
      Thalasemia Beta.
Bila produksi rantai beta terganggu mengakibatkan kadar Hb menurun sedangkan produksi Hb A2 atau Hb F  tidak terganggu karena tidak mengandung rantai beta dan malahan produksinya lebih banyak daripada keadaan normal, mungkin sebagai kompensasi. Eritropoesis sangat giat baik dalam sum-sum tulang maupun ekstramedular ( hati dan limfa ). Destruksi eritrosit dan prekursornya dalam sum-sum tulang adalah luas ( eritropoesis tidak efektif ) dan masa eritrosit memendek, serta didapat pula tanda-tanda anemia hemolitik ringan.

d)            Manifestasi Klinik.
Pada thalasemia mayor lebih terlihat secara spesifik dan pada anak yang berumur kurang dari 1 tahun yaitu;
       Anak lemah, anoreksia, pucat, ikterus, sesak nafas.
       Pertumbuhan terganggu.
       Berat badan kurang.

Pada anak yang besar sering dijumpai gejala;
       Gizi buruk.
       Perut membuncit karena adanya pembesaran hati dan limfa.

Gejala yang khas yaitu;
       Facies Cooley Mongoloid Thalasemia Fase yaitu hidung pesek, tidak ada glabela, muka lebar, tulang panjang menipis dan mudah fraktur.

Pada thalasemia mayor lebih sering terjadi komplikasi, komplikasi neuromuskular tidak jarang terjadi, akibat iskemia serebral dapat timbul kelainan neurologik fokal ringan. Gangguan pendengaran mungkin pula terjadi seperti pada kebanyakan anemia hemolitik, hemosiderosis akibat transfusi yang berulang-ulang,, pencegahan ini adalah dengan Iron Chelating Agent, misalnya Desferral.

Hepatitis pasca transfusi bisa dijumpai, apalagi bila darah transfusi atau komponennya tidak diperiksa terlebih dahulu terhadap  adanya HBsAg.

Hemosiderosis dapat menyebabkan sirosis hepatis, diabetes melitus, dan penyakit jantung. Deformitas pada tulang dan sendi, mungkin pula terjadi deformitas pada muka, kadang-kadang begitu berat sehingga memberikan gambaran yang menakutkan dan memerlukan operasi koreksi.
Pembesaran limfa dapat mengakibatkan hipersplenum dan dapat menyebabkan trombositopenia dan pendarahan.

e)             Pemeriksaan Diagnostik.
      Pemeriksaan Laboratorium.
       Hb, eritrosit dan Ht nilainya bervariasi ( secara umum meningkat ).
       Leukosit meningkat ( N ) naiknya palsu, karena banyak eritrosit muda yang terhitung.
       Kadar besi dalam serum meningkat.
       Hipokromi               hapusan darah tepi.

f)             Penatalaksanaan Medis.
Sampai sekarang masih belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkan pasien yang mengidap thalasemia.
Memelihara kecakupan kadar hemoglobin untuk mencegah hipoxic, karena HB mengikat O2             sianosis, sesak, metabolisme anaerob.
Pemberian transfusi darah harus diberikan bila kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%, dan jika anak terlihat lemah dan tidak ada nafsu makan, pemberian satu kolf transfusi untuk memenuhi kebutuhan selama 3 hari.
Pemberian suplement Iron Chelating Agent untuk mecegah kelebihan besi dalam serum darah.
Vitamin C diberikan bila tidak ada masalah ginjal karena vitamin ini akan memperberat kerja ginjal.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN.
1.                Identitas.
Identitas pasien dan identitas penanggung jawab.
2.               Riwayat Penyakit.
Keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga.
3.              Pemeriksaan fisik.
Keadaan umum, keadaan kulit, kepala dan leher, mata dan kualitas penglihatan, hidung dan penciuman, telinga dan pendengaran, gigi dan mulut, dada, pernafasan dan sirkulasi, abdomen, genetalia dan reproduksi, ekstrimitas atas dan bawah, data fokus.
4.              Kebutuhan fisik, psikososial dan spiritual.
Kebutuhan akan aktifitas dan istirahat, nutrisi, personal hygent, eliminasi dan sexual.
5.              Pemeriksaan penunjang.
6.              Pengobatan.
7.              Diagnosa dan Intervensi Keperawatan.
a)            Diagnosa Keperawatan.
1)              Gangguan distribusi O2 B. D disfungsi HB.
2)             Ketidak seimbangan nutrisi B. D kurang dari kebutuhan tubuh.
3)            Resiko tinggi terjadi komplikasi B. D transfusi darah yang berulang.
4)            Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit B. D kurang informasi tentang penyakit anaknya.
b)            Intervensi Keperawatan.
1)              Diagnosa 1.
       Kaji status, pola, dan frekuensi pernafasan.
       Beri inhalasi / O2 tambahan sesuai kebutuhan.
       Berikan posisi yang nyaman ( semi fowler / fowler ).
2)             Diagnosa 2.
       Ukur TTV, BB dan LLA.
       Beri transfusi darah yang cocok.
       Beri diet yang cukup gizi tetapi tidak boleh diberikan makanan yang mengandung zat besi.
       Anjurkan pasien agar mau makan sedikit tapi sering.
3)            Diagnosa 3.
       Kaji adanya perubahan-perubahan pada pasien.
       Kaji adanya perubahan warna kulit.
       Kaji adanya pembesaran hati dan limfa.
       Pantau keadaan umum pasien.
4)            Diagnosa 4.
       Jelaskan kepada orang tua mengenai penyakitnya dan penyebabnya.
       Jelaskan kepada orang tua mengenai transfusi darah yang harus diberikan sepanjang hidup anaknya.
       Anjurkan orang tua anak dan saudaranya untuk memotivasi anak untuk diperiksa darahnya.
















DAFTAR PUSTAKA



Doengos, Marylin E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta; EGC.
Mansjoer Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta; FKUI.
Ngastiah. Perawatan Anak Sakit. Jakarta; EGC.
Suriadi, SKP, dan Rita Yuliani, SKP. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi 1 Jakarta; CV. Agung Seto.